Memupuk Kembali Sikap Toleransi dan Menghargai Perbedaan

Ketika toleransi diuji kembali, Sobat kalimat ini merupakan bagian dari gambaran peristiwa kehidupan di negera kita tercinta yang mana akhir-akhir ini sedang diuji kembali sikap toleransinya. Setelah dinamika politik yang terjadi dengan isu-isu yang menjurus ke arah konflik intoleransi, munculnya sifat ego merasa benar sendiri, mudah menghakimi serta menganggap orang lain salah tanpa tau kebenaranya sehingga mengancam keberagaman di tanah air. Semenjak itu banyak masyarakat terutama pihak yang merasa benar atau dirugikan juga para netizen ikut berkomentar, bahkan sampai beradu argumen dengan nada negatif.

Berbicara mengenai konflik yang ditimbulkan akibat perilaku intoleransi. Masih banyak diantara kita yang sering gagal memahami persoalan intoleransi di berbagai daerah. Intoleransi biasanya sering dikaitkan dengan unjuk kekuatan mayoritas terhadap minoritas. Padahal intoleransi hanya bisa terjadi jika kita kehilangan sikap saling menghormati dan menghargai antara satu dengan yang lain.

Sementara itu, dari hasil survei yang dilakukan oleh Wahid Foundation, menunjukkan bahwa Indonesia masih rawan perilaku intoleran. Meski 40,4 persen masyarakat muslim telah bersikap toleran, masih ada sebanyak 38,4 persen yang intoleran terhadap non-muslim. Benar-benar menjadi masalah yang krusial, dimana intoleransi agama menjadi yang paling sensitif sebagaimana disampaikan oleh Karlina Supelli dalam pidatonya pada ulang tahun ke-23 Aliansi Jurnalis Independen Indonesia [Baca: Disini].
sumber data : databoks.katadata.co.id
Jika menilik kebelakang kasus seperti ini memang telah beberapa kali terjadi, mulai yang berselisih paham sampai ke hal yang lain. Melihat fenomena atau kejadian ini tentu dalam hati kecil saya muncul pertanyaan, mengapa hal demikian bisa terjadi? padahal negara kita ini terkenal dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, yang mempunyai makna berbeda-beda agama dan suku tetapi tetap satu dan padu. Apakah semboyan itu sudah mulai pudar dari pemikiran bangsa ini? entahlah, namun menurut saya pribadi yang harus dikaji dan diterapkan kembali adalah sikap toleransi dan menghargai perbedaan.

Ya, sikap toleransi menghargai perbedaan sangatlah penting dan harus direalisasikan serta dijunjung tinggi dalam sebuah negara yang mempunyai keberagaman baik itu ras, agama, suku dan buadaya terutama di Indonesia. Setiap umat, bebas menjalankan kewajiban ibadah menurut kepercayaannya, tanpa ada larangan dari siapapun. Harapan itu sangatlah diinginkan terjadi dibangsa indonesia ini. Bagaimanapun juga tindakan seperti mencaci agama lain, pelarangan ibadah atau pembakaran rumah ibadah itu sangat tidak dibenarkan, hal tersebut tentu sudah melanggar hak dan norma-norma kehidupan di negara kita yang berpedoman pada Pancasila.

Lantas bisakah kita memperkuat kembali sikap toleransi?
Jawabanya.. SANGAT BISA!! Berbicara tentang perdamaian pastinya tidak saja hanya bisa diwujudkan dengan keseragaman, namun juga toleransi terhadap perbedaan. Ada berbagai cara yang bisa masyarakat lakukan untuk menciptakan kehidupan yang damai ditengah-tengah perbedaan. Sebagai contoh dalam islam ada 2 kunci toleransi: Rahmatan Lil alamin & Lakum dinukum waliyadin. Berkah bagi seluruh umat & menghargai perbedaan agama.

Disini sudah jelas bahwasanya ketika dilihat perkara secara vertikal, keimanan, keyakinan terhadap suatu ajaran agama, itu perkara individu. Manusia tidak berhak untuk mencampuri hak-hak yang berkaitan dengan individu. Namun dari segi horizontal, sesama manusia, kewajiban secara universal baik itu perintah agama maupun bukan adalah berbuat baik sesama manusia.
Adapun hal lain yang bisa kita ambil dan kita terapkan dalam menjalankan sikap toleransi. Apabila kita mau mencermati bagaimana Indonesia dari dalam, ternyata Indonesia sudah mempunyai modal dasarnya. Apa itu? Pancasila. Ya, semuanya sudah terangkum jelas dalam butir-butir Pancasila. Sebagai contoh sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa mempunyai makna:

  • Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  • Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
  • Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

Seperti halnya di kota kelahiran saya yakni Kabupaten Bojonegoro, yang saya tau sejak dulu dikenal dengan daerah yang toleran dengan keberagaman yang ada, saling membantu dan menghargai satu sama lain, tanpa membeda-bedakan suku, ras dan agama, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Sehingga tercipta rasa aman, nyaman dan kondusif dilingkungan masyarakatnya.
tempat ibadah di kota bojonegoro. (dok pribadi)
kegiatan sosial antar umat beragama di bojonegoro. (dok pribadi)
Begitulah sekiranya kondisi di Bojonegoro saat ini, dimana tingkat toleransi antar umat beragamanya sangat tinggi, beragam agama, suku dan pandangan kepercayaan ada, mereka hidup rukun dan saling berdampingan. Sebagai contoh, foto di atas menunjukan bahwa banyak tempat ibadah dari berbagai agama berdiri di wilayah Bojonegoro mulai dari Masjid, Gereja, Kelenteng, dan lain sebagainya dengan umatnya yang bisa beribadah dengan tenang tanpa ada larangan ataupun diskriminasi.

Bukan hanya tempat ibadah, sikap toleransi antar pemeluk agama pun sering saya jumpai diantaranya seperti kegiatan bakti sosial yang diadakan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Bojonegoro di Pondok Pesantren Maajma'al Bahrain Shiddiqiyah, Ds. Ngraseh Kec. Dander Bojonegoro, kedua pemeluk agama berbeda ini berkumpul seperti layaknya keluarga sendiri, saling bertegur sapa berbincang dan tolong menolong dalam sebuah kegiatan sosial.
Gerebek berkah bojonegoro. (dok pribadi)
Sementara itu untuk menjaga semangat persatuan, ada banyak cara yang bisa kita lakukan, misalnya seperti apa yang dilakukan oleh masyarakat dan komunitas yang ada di Bojonegoro yaitu dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dalam peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia untuk meningkatkan rasa nasionalisme cinta akan tanah air, Grebek Berkah di Hari Jadi Bojonegoro sebagai wujud rasa syukur sekaligus wadah berkumpulnya masyarakat dari berbagai kalangan, atau hal-hal sederhana seperti melakukan kerja bakti bersama terkait kepedulian lingkungan. Ini membuktikan bahwa keberagaman menjadi aset berharga bagi suatu daerah.

Perkara toleransi menjadi sangat bermakna ketika kita hidup bersama dalam kebinekaan, kemajemukan. Dan pada hakikatnya kemajemukan tidak hanya meliputi hal-hal permukaan yang tampak seperti warna kulit, corak rambut, gaya hidup, sandang dan pangan. Namun, kemajemukan juga mencakup sistem kepercayaan, gagasan, nilai-nilai serta ihwal tak-ragawi lainnya.

Perlunya Peran Media dalam Menjaga Keberagaman

Media massa/pers sebagai salah satu pilar demokrasi merupakan navigator gerak langkah bangsa. Dimana opini publik yang termuat di media sangat menentukan ke mana bangsa ini mengarah. Ketika masyarakat diberikan akses informasi yang luas melalui media biasanya akan memberikan dampak positif dan negatif.

Berita-berita atau isu yang bersumber dari media yang terekspos bebas secara tidak langsung akan menggiring masyarakat ke dalam kategori bijak dan tidak dalam mengolah informasi. Sehingga membuat masyarakat bergerak dalam kepentingan masing-masing berbekal informasi yang sudah didapatkannya.

Seperti halnya isu mengenai etnis dan agama yang seharusnya tidak perlu menjadi isu yang dibesar-besarkan, karena masyarakat Indonesia sendiri tinggal dalam keberagaman semakin sering diberitakan, dan tidak jarang respon-respon negatif yang justru mengkesampingkan keberadaan keberagaman lebih sering muncul dan cenderung lebih menampilkan saling berbalas pernyataan dan komentar.

Nah, disini fungsi kontrol dan ojektivitas pemberitaan media sangat diperlukan untuk menghindari salah tanggap dari masyarakat sehingga isu yang berhubungan dengan etnis dan agama tidak semakin memperparah hubungan antara dua kelompok mayoritas dan minoritas, sekaligus mereduksi kecurigaan satu sama lain.

Seperti apa yang di sampaikan Bapak Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin dalam penuturanya di depan forum dalam rangka memperingati Ulang Tahun Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI) yang ke-22 tahun 2016 dengan tema “Kebhinekaan dan Keberagaman Indonesia”, mengungkapkan tentang pentingnya fungsi kontrol dan tindakan represif guna meredam konflik yang kemungkinan muncul dari isu atau masalah keberagaman [Baca: Disini].

sumber video : youtube.
Adanya organisasi jurnalis seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dapat memberi solusi sekaligus berpotensi menjadi agen perubahan yang mempersatukan segala perbedaan agar menjadi harmoni yang indah. Independensi AJI tidak perlu dipertanyakan lagi, keberadaanya dapat menjadi teladan dalam menyemai nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari mana pun, dari agama yang luhur dan juga ajaran para leluhur.

Selain itu, di era digital seperti sekarang ini AJI diharuskan untuk berada di garda terdepan untuk menemukan model bisnis media dan pola kerja jurnalis yang tepat dalam menjaga mutu pers Indonesia. Persoalannya tantangan AJI bukan lagi semata rezim yang suka membungkam media massa, melainkan juga kegaduhan dan keruwetan media sosial.

Terlepas dari semua itu, kita sendiri sebagai masyarakat Indonesia juga berkewajiban merawat keberagaman. Bukan sekadar karena keberagaman adalah bingkai pemersatu bangsa Indonesia. Lebih dari itu, keberagaman adalah nilai kemanusian yang universal. Pekerjaan rumah paling berat dari upaya merawat keberagaman adalah memulai dari diri sendiri.

Demikian apa yang bisa saya tulis dan sampaikan, mulai saat ini marilah kita berfikir dan merenungkan sekaligus menginggalkan hal-hal yang tidak terpuji. Selain itu mari kita pupuk kembali serta junjung tinggi rasa toleransi dan menghargai perbedaan supaya kedepan kita bisa menjadi orang yang cinta damai. Semoga, kita & negara tercinta Indonesia bisa menjadi lebih damai lagi, saling menghargai, saling tolong-menolong bahu-membahu membangun bangsa dalam bingkai NKRI. Amin Ya Rabbal 'Alamin..

Oleh :
Moch. Achsanul In'am
Sumber foto dan gambar :
Dokumen pribadi dan edit sendiri
Sumber video :
https://www.youtube.com/watch?v=ccvyxH906no
Sumber referensi & data :
http://independen.id/read/media/148/orasi-budaya-menteri-agama-kebhinekaan-dan-keberagaman-indonesia/
http://independen.id/read/media/486/menolak-intoleransi-merawat-indonesia-tantangan-bagi-media/
http://databoks.katadata.co.id/
Previous
Next Post »

1 komentar:

Click here for komentar
3 November 2017 22.34 ×

Peran Media itu penting sekali, Semenjak kebebasan perpendapat diterapkan, sepertinya terjadi eforia. Media hanya mengejar oplah...

Congrats bro Djangkaru Bumi you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar
Thanks for your comment