Menyelamatkan Kawasan Leuser Untuk Generasi Yang Akan Datang


Sobat, Indonesia adalah negeri yang kaya akan keindahan. Dimana setiap sudut negeri ini memiliki keindahan yang tak ternilai, mulai dari sabang sampai merauke. Nah, salah satu keindahan yang dimiliki negeri ini yaitu Taman Nasional Gunung Leuser atau yang sering disebut TNGL. Ya, TNGL sendiri merupakan taman terbesar di Indonesia dengan kawasan pelestarian alam yang sangat eksotis serta keberagaman makhluk hidup di dalamnya.

Perlu sobat ketahui bahwasanya TNGL juga telah menyandang dua status berskala global lho yakni sebagai Cagar Biosfer (tahun 1981) & Warisan Dunia yang disahkan oleh UNESCO (tahun 2004). Berbicara tentang keindahan TNGL punya segalanya dan tak perlu diragukan lagi. Beragam jenis ekosistem baik flora maupun fauna mewarnai keindahan taman nasional ini, mulai ekosistem asli dari pantai hingga pegunungan tinggi yang meliputi hutan hujan tropis dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan ilmu pengetahuan, pendidikan, budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman Nasional Gunung Leuser juga memiliki beberapa Pusat Penelitian Alam dan Pusat Rehabilitasi Satwa.

Taman Nasional Gunung Leuser mempunyai peran penting dalam menjaga kestabilan Sistem Penyangga Kehidupan di lingkungan sekitar yaitu mensuplai air bagi empat juta penduduk yang tinggal di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Kurang lebih hampir sembilan kabupaten bergantung pada manfaat TNGL, diantaranya berupa ketersediaan air konsumsi, air pengairan, sistem penjaga kesuburan tanah, mengendalikan banjir, dan sebagainya. Selain itu, ada lima Daerah Aliran Sungai di Aceh dan tiga DAS di Sumatera Utara yang dilindungi oleh Taman Nasional Gunung Leuser.

TNGL juga memiliki fungsi sebagai habitat asli satwa sumatera seperti Gajah sumatera, Badak sumatera, Orangutan sumatera, Harimau sumatera, Beruang madu, Siamang dan lain sebagainya. Tak hanya itu, Taman Nasional Gunung Leuser mempunyai jumlah spesies burung terbanyak di dunia dengan 380 spesies. Leuser merupakan habitat sebagian besar fauna, mulai dari mamalia, burung, reptil, ampibia, ikan, dan invertebrata. Maka dari itu, tidak berlebihan rasanya jika kita menyebut TNGL sebagai laboratorium alam yang kaya akan keanekaragaman hayati.

Dengan semua potensi yang ada, seharusnya kita bangga dan bisa menjaga anugerah sang pencipta yang dititipkan kepada kita. Namun, sebagaimana ada hal baik, ada juga hal buruknya. Mustahil apabila tidak ada tangan jahil yang ingin mengeksploitasi hasil hutan secara berlebihan demi keuntungan pribadi dengan tidak memperhitungkan konsekuensinya ke masyarakat luas. Hal ini kita bisa lihat dari maraknya kasus pembalakan liar di beberapa lokasi yang menyalahi batas reservasi lingkungan, sehingga menyebabkan bencana longsor dan banjir bandang, seperti yang telah terjadi beberapa tahun belakangan ini dan telah banyak memakan korban jiwa & kerugian materi. Sungguh disayangkan, Taman Nasional Gunung Leuser akan mempunyai banyak fungsi dan manfaat apabila kita mau menjaga dan melestarikanya.

Fungsi Ekosistem Taman Nasional Gunung Leuser dalam Pembangunan Berkelanjutan.

1. Pengaturan Air : Ekosistem Leuser dengan komposisi hutan yang dipenuhi pohon-pohon besar, semak, perdu dan tanaman bawah yang menutupi lantai hutan akan merupakan suatu kawasan yang bisa menyimpan air. Air yang terinfiltrasi di dalam bagian-bagian pohon tadi akan dilepaskan sedikit demi sedikit di lantai hutan berupa mata air dan dari mata air berkumpul menjadi anak-anak sungai yang akhirnya bergabung menjadi sungai. Sebagian air yang meresap kedalam pori-pori tanah akan tertampung pada daerah tertentu di dalam lapisan tanah membentuk air tanah (dalam), sedangkan air tanah permukaan selain berupa sungai, bisa berupa danau dan rawa-rawa, itulah yang menjadi reservoir air bagi kehidupan nanti.

2. Mendukung Pertanian : Dengan mantapnya hutan, baik keragaman dan kepadatan/kerapatan jenisnya, maka makin mantap ekosistemnya. Sebaliknya bila hutan terganggu yaitu terganggunya tanaman (rantai kehidupan) didalam struktur hutan. Satwa-satwa liar akan terganggu sehingga mereka keluar atau pindah mencari daerah yang aman.Gajah, harimau, babi hutan dan jenis-jenis satwa lainnya yang tadinya hidup aman didalam hutan akhirnya berlarian keluar hutan mengganggu ladang dan perkebunan serta ternak dan usaha penduduk. Selain itu yang sangat menyeramkan adalah hama-hama tanaman pertanian yang sebelumnya aman, terikat dalam rantai kehidupan dihutan terutama cyclusnya akhirnya bubar dan mencari makanan atau mangsa lain diluar hutan. Hama tadi menyerang tanaman-tanaman pertanian dan perkebunan dalam jumlah yang sangat banyak.

3. Mendukung Industri : Kestabilan Ekosistem Leuser dapat dikatakan akan memberi bahan baku yang tetap bagi industri baik itu berupa suplai air untuk proses industri, juga hutan menyediakan bahan baku bagi industri hilir. Hasil hutan berupa rotan, damar, obat-obatan, terpentin, dll yang terdapat di dalam Kawasan Ekosistem Leuser yang utuh dan mantap akan selalu tersedia asal pemanenannya dilakukan secara teratur dan baik. Rotan untuk industri merebah sangat terikat erat dengan ketersediaan bahan bakunya dihutan. Industri farmasi sangat tergantung dengan bahan-bahan baku dari dalam hutan.Industri kosmetik dll. Jadi keberadaan Ekosistem Leuser yang mantap betul-betul merupakan penyanggah bagi terselenggaranya aneka industri yang bekelanjutan.

4. Pengaturan Iklim : Adanya Ekosistem Leuser memberikan sirkulasi udara yang berkesinambungan bagi daerah sekitarnya. Udara sejuk dan nyaman sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup. Mantapnya Ekosistem Leuser akan menghasilkan iklim mikro (didalam dan disekitar) hutan. Evapotranspirasi dari Ekosistem Leuser dimana terdapat (sungai, danau, rawa, hutan) memberikan sumbangan bagi mantapnya iklim lokal.

5. Mendukung Kepariwisataan : Manusia selalu mendambakan keharmonisan hidup di alam, dan Ekosistem Leuser menjanjikan hal tersebut. Dengan mantapnya Ekosistem Leuser dapat dipastikan banyak daerah-daerah indah dan nyaman yang bisa diandalkan menjadi daerah tujuan wisata. Selain kesejukan dan kenyamanan, objek-objek alam yang menantang bagi ovonturir (penjelajah alam) sangat banyak didapati didalam Ekosistem Leuser.

6. Mendukung Pendidikan dan Kebudayaan : Lingkungan alam mempengaruhi jiwa dan karakter suatu bangsa/suku. Suku-suku yang mendiami daerah pesisir berbeda karakternya dengan suku-suku di pegunungan. Dengan adanya Ekosistem Leuser yang utuh dan baik budaya masyarakat sekitarnya ikut terbina, tertata dan tersimpan dengan baik. Masyarakat akan hidup harmonis dengan alam, tidak terlalu banyak campur tangan manusia di dalamnya.

Ekosistem Leuser juga merupakan laboratorium alam yang kompleks dan perlu untuk dipelajari segala dinamika alam yang terjadi dan yang terdapat disana. Dan ini membutuhkan perhatian dan penanganan yang serius untuk menjaga keamanan dan kestabilan Ekosistem Leuser agar bisa menjadi tempat penelitian, tempat inspirasi para seniman dan menjadi sumber pemahaman manusia tentang kebesaran ciptaan Tuhan.

Melihat banyaknya fungsi dan manfaat TNGL bagi kehidupan, maka diperlukan langkah-langkah atau tindakan untuk menjaga kelestarian ekosistem kawasan leuser tersebut. berikut ini beberapa poin penting menurut saya yang perlu di perhatikan dan dilaksanakan :

Jaga Keunikan Leuser.

TNGL merupakan hutan yang unik, karena keanekaragam hayati (biodiversita) yang dimilikinya bisa memenuhi kebutuhan konservasi dalam skala yang luas. Di seluruh kawasan hutan konservasi di dunia ini, hanya di TNGL kita bisa menemukan harimau, gajah, badak dan orangutan hidup berdampingan. Keberadaan satwa ini juga mempunyai nilai budaya bagi masyarakat. Keberadan mereka mengajarkan tentang harmoniasi, peradaban yang terjaga dan kelestarian alam. Karena hal tersebut mewakili cerminan bangsa Indonesia sebagai negara plural yang bisa hidup damai berdampingan dalam sebuah negara.

Baik manusia atau pun hewan sangat tergantung pada hutan. Hutan yang menjadi tempat tinggal satwa tersebut berfungsi juga sebagai pengatur tata air, pencegah banjir, konservasi tanah dan menjaga keseimbangan kandungan oksigen dan karbondioksida di udara, yang semua itu berguna bagi manusia. Saat ini Taman Nasional Gunung Leuser merupakan bahtera untuk menyelamatkan satwa kunci harimau, gajah, badak dan orangutan untuk tetap ada, terjaga dan lestari.

Mengingat pentingnya keberadaan ekosistem dan keanekaragaman hayati, maka sudah seharusnya pemerintah memberikan perlindungan serta payung hukum yang bisa menjamin keberlangsungannya di masa depan. Di Aceh, Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) adalah mata rantai utama bagi lingkungan sekitarnya. Upaya untuk melindunginya harus ditempuh dengan tetap memasukkannya dalam perencanaan ruang, serta tidak menurunkan statusnya karena pertimbangan pragmatis.

Perlibatan peran masyarakat adat.

Laju deforestasi memang dipicu oleh perusakan oleh korporasi tak bertanggung jawab dan masyarakat perambah. Namun, tak semua kelompok masyarakat yang berdiam di hutan bisa diklasifikasi demikian. Kita memiliki masyarakat adat yang memiliki pranata tersendiri. Termasuk melarang warga adat merusak hutan masyarakat adat memang berdiam di dalam hutan dan mengambil manfaat flora dan fauna di dalamnya. Namun, dengan pranata tersendiri, mereka memberlakukan hukuman yang ketat buat siapa saja yang melanggar. Misalnya menebang jenis pohon tertentu untuk digunakan sebagai rumah atau dijual.

Dalam konteks hutan Indonesia, peran masyarakat adat ini sangat penting. Mereka adalah penjaga hutan yang sejati. Perusakan hutan dengan membalak secara liar atau dibuka untuk kepentingan ekonomi bisa berdampak buruk buat mereka. Dengan rusaknya hutan, komunitas warga adat juga terganggu. Pemerintah seharusnya menjadikan keberadaan masyarakat adat ini sebagai satu kekuatan agar hutan tetap lestari.

Mengubah Paradigma.

Pilihan terakhirnya ada pada kita. Kita harus mengubah paradigma yang negatif dan bersifat merusak. Paradigma kita terhadap hewan selama ini sangat antroposentris. Kita masih menganggap derajat hewan jauh di bawah derajat manusia, sehingga kita tidak pernah peduli akan keberadaan hewan itu sendiri. Paradigma ini harus segera diubah. Sebab, keberadaan hewan di muka bumi bisa dikatakan sebagai partner manusia untuk keseimbangan alam. Perubahan paradigma ini sangat berguna untuk kehidupan kita sekarang dan generasi berikutnya. Di masa depan, tentunya kita tidak ingin bercerita mengenai badak, harimau, gajah dan orangutan.

Kita tentu masih menginginkan semuanya ada dan nyata. Untuk itu, masing-masing dari kita harus mengubah paradigma dan segera bertindak tanpa pamrih untuk menjaga kelestarian satwa tersebut. Dimulai dari tidak melakukan perburuan di TNGL, melaporkan segala perburuan ilegal, mengawasi TNGL dari perambah hutan, hingga mendukung kegiatan pemerintah yang berkaitan dengan konservasi hutan TNGL. Jika kita melaksanakan semua itu dengan komitmen yang tinggi, konsisten, penuh empati dan berkesinambungan, itu artinya kita ikut berpartisispasi memastikan kelestarian satwa kunci tersebut. Dengan demikian, keunikan Leuser akan tetap ada. Selamatkan Kawasan Leuser Untuk Generasi Yang Akan Datang!
Previous
Next Post »
Thanks for your comment