Implementasi Nilai-Nilai Pancasila di Kabupaten Bojonegoro

Sobat, Pancasila merupakan sebuah perwujudan dari nilai-nilai budaya milik bangsa Indonesia yang diyakini kebaikan dan kebenarannya oleh masyarakat serta diwujudkan di dalam kehidupan nyata. Pancasila sendiri merangkum nilai-nilai yang sama yang terkandung dalam adat-istiadat, kebudayaan, dan agama-agama yang ada di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa Pancasila sebagai pandangan hidup mencerminkan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia. Selain itu, Pancasila juga berperan sebagai pedoman dan penuntun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Era globalisasi dan modernisasi yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi yang harus diterima seluruh bangsa, termasuk Indonesia. Dan hal tersebut disadari atau tidak, langsung atau tidak, suka atau tidak, akan berdampak dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Apalagi akhir-akhir ini rakyat dibuat khawatir dengan berbagai fenomena pudarnya rasa kebersamaan, keberagaman, munculnya sifat ego merasa benar sendiri, mudah menghakimi serta menganggap orang lain salah tanpa tau kebenaranya dan faham sejenis lainnya sangatlah bertentangan dengan Pancasila yang sangat menghormati dan menghargai kebhinekaan.

Melihat fenomena tersebut, sudah seharusnya kita terus memperkuat kembali Pancasila yang telah menunjukkan dan memungkinkan kita hidup berdampingan secara damai, harmonis dan penuh toleransi dengan siapa saja yang berbeda latar belakang agama, suku, ras, adat istiadat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk keluarga-keluarga di daerah untuk terus menanamkan nilai-nilai Pancasila sejak dini.

Seperti halnya di Kabupaten Bojonegoro, yang saya tau sejak dulu dikenal dengan daerah yang toleran dengan keberagaman yang ada, saling membantu dan menghargai satu sama lain, tanpa membeda-bedakan suku, ras dan agama, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Sehingga tercipta rasa aman, nyaman dan kondusif dilingkungan masyarakatnya. Berikut ini saya akan menggambarkan sekaligus mengulas bagaimana kondisi masyarakat Bojonegoro dalam menjalankan praktik Pancasila.

Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa
Nilai Ketuhanan: Mengandung makna bahwa kita segenap bangsa indonesia menyakini adanya tuhan sebagai pencipta alam semesta. Dengan nilai ini menyatakan bangsa Indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. Nilai ketuhanan juga memiliki arti adanya pengakuan dan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku deskriminatif antar umat beragama.
Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Dander, Bojonegoro, Klenteng Tri Dharma Hok Swie Bio, Bojonegoro
Sesi Wawancara di Kelenteng Hok Swie Bio
Bakti Sosial Gereja Kristen Indonesia (GKI) Bojonegoro di Pondok Pesantren Maajma'al Bahrain Shiddiqiyah, Ds. Ngraseh Kec. Dander Bojonegoro. 

Sungguh indah memang jika semua umat dan suku bangsa yang berbeda di negeri ini bisa saling menghormati bahkan saling berbagi. Sebagai wujud kebersamaan dalam kemajemukan agama dan kita harus bersatu. Dalam agama Islam juga diajarkan tentang toleransi dan mengenalkan ukhuwah, termasuk ukhuwah kerukunan sebagai sesama bangsa dan kerukunan antarumat manusia.

Begitulah sekiranya kondisi di Bojonegoro saat ini, dimana tingkat toleransi antar umat beragamanya sangat tinggi, beragam agama, suku dan pandangan kepercayaan ada, mereka hidup rukun dan saling berdampingan. Sebagai contoh, foto di atas menunjukan bahwa banyak tempat ibadah dari berbagai agama berdiri di wilayah Bojonegoro mulai dari Masjid, Gereja, Kelenteng, dan lain sebagainya dengan umatnya yang bisa beribadah dengan tenang tanpa ada larangan ataupun diskriminasi.

Bukan hanya tempat ibadah, sikap toleransi antar pemeluk agama pun sering kita jumpai diantaranya seperti kegiatan bakti sosial yang diadakan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Bojonegoro di Pondok Pesantren Maajma'al Bahrain Shiddiqiyah, Ds. Ngraseh Kec. Dander Bojonegoro, kedua pemeluk agama berbeda ini berkumpul seperti layaknya keluarga sendiri, saling bertegur sapa berbincang dan tolong menolong dalam sebuah kegiatan sosial.

Tidak hanya itu, toleransi pun juga bisa kita lihat di Kelenteng Tri Dharma Hok Swie Bio Bojonegoro yakni kegiatan rutin buka bersama setiap Jumat selama bulan Ramadhan sebagai bentuk toleransi beragama dan menghormati umat muslim yang berpuasa. Sebelum berbuka biasanya akan disuguhi hiburan atraksi barongsai serta ceramah agama dari tokoh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Ada juga Suku Samin yang dikenal dengan sikap menjunjung tinggi kejujuran, welas asih, persaudaraan dan mencintai lingkungan hidup serta alam semesta. Dan masih banyak lagi praktik toleransi yang lain di Bojonegoro.

Ya, semua sikap toleran di atas merupakan langkah awal terciptanya masyarakat yang damai dan bertoleransi, dengan membuat masyarakat tersebut saling percaya. Nah, apabila kepercayaan satu sama lain sudah terbangun, maka perbedaan bukanlah ancaman. Pluralisme bisa dijalankan dengan damai dengan memberikan contoh yang baik dan menjelaskan tindakan kita yang menjunjung semangat toleransi kepada masyarakat.

Sila Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab
Nilai Kemanusian: Mengandung makna, kesadaran sikap dan prilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya.
Bagi minuman gratis di Masjid Agung Bojongoro, Bagi Takjil di Jalan Veteran Bojongoro, Bantuan Sembako dari Mahasiswa Universitas Bojonegoro.
Sudah semestinya kita sebagai sesama umat manusia mempunyai kepedulian dan rasa saling tolong menolong sebagai wujud rasa cinta kasih kepada sesama. Yang perlu diperhatikan dan merupakan dasar hubungan semua umat manusia dalam mewujudkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab yakni pengakuan hak asasi manusia. Manusia harus diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang sama derajatnya. yang sama hak dan kewajiban asasinya. Untuk itu perlu dikembangkan juga sikap saling mencintai sesama manusia, sikap peduli atau tenggangrasa.

Berkomunitas bukan hanya sekadar berkumpul dan mengumbar kesenangan. Berkomunitas juga memperbanyak berbagai antar sesama. Itulah gambaran nyata kegiatan sosial yang pernah saya jumpai di Bojonegoro, baik itu dari komunitas, mahasiswa, maupun kelompok masyarakat banyak kita jumpai ketika melakukan kegiatan sosial. Contoh seperti Instansi Sekolah SMPN 1 Bojonegoro membagikan minuman dingin gratis setelah sholat jum'at di Masjid Darussamalam Bojonegoro, Komunitas Motor Beat Bojonegoro membagikan takjil di Jalan Veteran Bojonegoro dan Mahasiswa Unigoro memberi santunan sembako kepada warga kurang mampu di Ds. Sumodikaran Kec. Dander Bojonegoro.

Di bidang kesehatan, dalam penerapan sila kedua pancasila juga telah dilakukan oleh para tenaga medis dan paramedis RSUD Sosodoro Djatikoesoemo untuk meningkatkan kepuasan pasien yakni dengan memberikan pelayanan kesehatan yang lebih ramah, santun serta perlakuan maupun pelayanan yang sama terhadap semua pasien atau keluarga pasien tanpa membedakan status ekonomi, suku, bangsa dan agama. Sesuai dengan motto “Melayani Pasien dengan Senyuman” & mewujudkan “Rumah Sakit Welas Asih”.

Sila Ketiga, Persatuan Indonesia
Nilai Persatuan: menumbuhkan sikap masyarakat untuk mencintai tanah air, bangsa dan negara Indonesia, ikut memperjuangkan kepentingan-kepentingannya, dan mengambil sikap solider serta loyal terhadap sesama warga negara.
Komunitas Peduli Lingkungan Bojonegoro melakukan kegiatan bersih Bengawan, Bongawan Solo Ledok Kulon Bojonegoro
Pertunjukan Reog dan Nonton brsama film Perjuangan malam 17 Agustus, Ds. Sumodikaran Kec. Dander Bojonegoro.
Grebek Berkah Jonegaran.

Semangat persatuan merupakan salah satu asas penting karena negara kita terdiri dari berbagai macam agama dan suku bangsa sehingga kita harus dapat membina persatuan di antara perbedaan tersebut agar menjadi lebih kokoh dan kuat. Nilai persatuan ini harus kita tanamkan pada diri masing-masing sehingga kita tidak melihat perbedaan itu sebagai sesuatu yang menimbulkan jarak namun harus kita lihat sebagai suatu kekuatan, dengan banyaknya variasi dalam masyarakat maka kita dapat menggabungkan berbagai macam ide sehingga mendapatkan hasil akhir yang solid dan didukung semua pihak.

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga semangat persatuan dan kesatuan bangsa, misalnya seperti apa yang dilakukan oleh masyarakat dan komunitas yang ada di Bojonegoro yaitu dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dalam peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia untuk meningkatkan rasa nasionalisme cinta akan tanah air, Grebek Berkah di Hari Jadi Bojonegoro, atau hal-hal sederhana seperti melakukan kerja bakti bersama terkait kepedulian lingkungan.

Sila Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan.

Nilai kerakyatan: mengandung makna bahwa dalam suatu pemerintahan itu berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat yang dilaksanakan dengan cara-cara musyawarah mufakat dan semangat gotong royong.
Dialog Publik di Pendopo Pemkab Bojonegoro
Layanan Aduan Terkait Pembangunan dan Pelayanan Publik.

Sebagai contoh adanya Dialog Publik di Pendopo yang dilaksanakan setiap hari jum'at siang sebagai wujud demokrasi dan transparansi (keterbukaan). Kegiatan tersebut merupakan terobosan Pemkab Bojonegoro untuk menarik kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Sebab untuk mewujudkan Pemerintahan yang terbuka maka perlu adanya sinergi antara Pemerintah dan masyarakat.

Keterbukaan yang di maksud diatas yaitu keterbukaan mengenai pengelolaan keuangan, pengelolaan sumber daya manusia, dan pengelolaan aset. Nah, sehingga pengelolaan itu bisa dilihat, mulai dari tahap perencanaan, kemudian tahap pelaksanaan, dan tahap pertanggungjawaban. Termasuk, data-data yang dimiliki oleh pemkab itu masuk open data sepanjang data itu bukan rahasia negara.

Selain keterbukaan data, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga menampung semua keluhan dan aspirasi masyarakat. Yang mana masyarakat bisa mengajukan keluhan, lapor, dan melihat apa saja dan bisa diketahui secara publik, baik dialog, radio, sms maupun Aplikasi LAPOR secara online. Jadi, lapor itu bisa aspirasi, bisa soal aduan, dan itu bisa terintegrasi dengan sistem daring.

Sila Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Nilai keadilan: Perlakuan yang adil disegala bidang kehidupan terutama di bidang politik, ekonomi dan sosial budaya, Perwujudan keadilan sosial itu meliputi seluruh rakyat Indonesia, Keseimbangan antara hak dan kewajiban, Menghormati hak milik orang lain, Cita-cita masyarakat yang adil dan makmur yang merata material spiritual bagi seluruh rakyat Indonesia, Cinta akan kemajuan dan pembangunan..
Dalam penerapan sila ke lima pancasila di tingkat lokal, Pemkab Bojonegoro telah berinisiatif membentuk Dana Abadi Minyak Bumi dan Gas Alam (Migas) Bojonegoro. Dibentuknya dana abadi migas ini atas dasar keadilan yang mempunyai tujuan untuk mendistribusikan sumber daya migas secara adil untuk generasi saat ini dan generasi yang akan datang saat migas dan gas di wilayah tersebut sudah habis, dengan menyisihkan atau mencadangkan sebagian revenue dari sektor migas untuk pembangunan jangka panjang dan nantinya bisa dinikmati dari generasi ke generasi. Gagasan ini sejalan dengan kenyataan bahwa Bojonegoro di dalam jangka panjang akan berkontribusi signifikan terhadap produksi migas dalam negeri dan juga kenyataan bahwa Bojonegoro telah berhasil mengentaskan kemiskinan.

Kelima sila dalam Pancasila sejatinya merupakan dasar yang menaungi setiap hak-hak yang dimiliki oleh  masyarakat Indonesia. Dapat dikatakan bahwa Pancasila memayungi Hak Asasi Manusia (HAM) melalui nilai-nilai yang terkandung dalam kelima sila yang ada. Praktik pelaksanaan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari diharapkan dapat membawa kebaikan, kesejahteraan hidup, persatuan serta terbinanya kerukunan di lingkungan masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Semboyan bhinneka tunggal ika yang terpatri kuat dalam diri juga mendukung praktik pelaksanaan Pancasila mulai dari tingkat lokal, nasional sampai dengan mancanegara.

Demikian apa yang bisa saya share dan infokan mengenai Praktik Pancasila di Kabupaten Bojonegoro, semoga kedepanya kita bisa terus melestarikan, mengamalkan dan mengembangkan Pancasila sebagai sumber nilai serta penyemangat untuk membangun sikap dan komitmen diri dalam membangun Bojonegoro yang berkelanjutan. Mari kita sukseskan Festival HAM 2016 sebagai bentuk perayaan praktik pancasila di tingkat lokal sekaligus pemicu semangat menjadikan masyarakat Bojonegoro sehat, cerdas, produktif, dan bahagia.

Moch. Achsanul In'am

sumber referensi : 
www.bloggerbojonegoro.or.id
id.wikipedia.org 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Festival HAM 2016 "Menjalankan Praktik Pancasila di Tingkat Lokal" yang diselenggarakan oleh Pemkab Bojonegoro bekerjasama dengan Blogger Bojonegoro, Infid dan Grahatma Semesta.


Previous
Next Post »
Thanks for your comment