Menghilangkan Prasangka dan Stereotipe Negatif

Berbicara megenai prasangka, tanpa kita sadari sering muncul dan datang dalam diri kita yang mana secara otomatis akan mempengaruhi interaksi serta hubungan kita dengan orang lain. prasangka bisa datang dimana dan kapan saja dalam kehidupan sehari-hari, contoh sederhana seperti memandang gerak-gerik orang lain yang berbeda penuh curiga, muncul rasa kebencian atau ketakutan yang berlebihan yang bersumber dari informasi "katanya" atau belum tentu benar kejadianya sehingga mengakibatkan konflik antara kita dengan orang lain.

"Eh, anak itu katanya suka nyontek kalau di sekolah ya?"
"Saya sebel sekali kalau lihat orang itu, gayanya sombong sekali"
"Bro jangan temenan sama anak itu, dari tadi tingkah lakuknya mencurigakan"
dll.

Seiring berjalanya waktu prasangka atau setereotipe negatif mulai meluas dan menyebar di kalangan masyarakat. termasuk di Indonesia, seperti yang kita ketahui bersama bahwa negara kita dikenal sebagai negara yang majemuk tentunya berpontensi akan munculnya berbagai permasalahan. Ya Kita pastinya akan dihadapkan dengan keragaman dan perbedaan akan suku bangsa, agama, golongan sosial, partai politik, dan lain sebagainya. tanpa sengaja dari sinilah biasanya muncul konflik-konflik di Indonesia yang dipicu oleh kejadian yang berasal dari "katanya", kemudian berkembang menjadi konflik antar umat agama yang dipicu oleh rasa saling curiga, ataupun konflik antar suku bangsa.

Disisi lain prasangka juga melahirkan sikap-sikap yang bersifat stigma dan diskriminasi, bagaimanapun juga tingkah laku atau tindak tanduk kita mencerminkan sikap prasangka kepada orang lain. baik itu ucapan, perkataan, tindakan, maupun semua perilaku kita mencerminkan stigma dan diskriminasi kita. Misalnya kita menilai kaum 1 adalah pembohong, suku 2 adalah ini itu. Dan kebiasaan lain biasanya kita akan menyebarkannya kepada orang lain untuk menanam kebencian dan dendam pada orang lain. Bisa dibayangkan jika ini bertahan lama, generasi yang akan datang bisa lahir sebagai kaum pembenci dan pendendam. tetu hal seperti ini sangat tidak kita inginkan untuk terjadi. Nah, menyikapi hal seperti ini tentu membuat kita harus berfikir bagaimana langkah atau sikap yang harus kita ambil terkait upaya menghilangkan prasangka dan stereotipe negatif. Adapun poin-poin penting yang mungkin bisa digunakan untuk mengatasi hal tersebut:

Melakukan komunikasi yang baik: banyak hal yang bisa dilakukan baik dalam bentuk tertulis, verbal maupun secara visual yang mana sesungguhnya tujuan utamanya yakni mempengaruhi tingkahlaku seseorang atau kelompok. Hal seperti sudah tentu menjadi penting untuk dilakukan, kenapa? karena biasanya seseorang hanya akan mau menerima informasi yang hanya mau dia dengar saja. Selain itu dia juga tidak akan mau mendengar sesuatu yang tidak ingin dia dengar. Memang demikian pada umumnya mereka tidak akan mau dikatakan sebagai seseorang yang berprasangka. Oleh karenanya membangun komunikasi yang baik secara persuasif dengan orang atau kelompok yang berprasangka memang penting dilakukan.

Bidang pendidikan: Ya pendidikan merupakan sesuatu yang penting untuk dilakukan sebagaimana mengenalkan suatu informasi baru yang sebenarnya berbeda dengan apa yang dibayangkan sebelumnya. Maka dari itu fungsi pendidikan disini akan menjadi jembatan informasi karena pendidikan sendiri mempunyai kesulitan untuk mengurangi prasangka karena ada perasaan dari para penerimanya untuk menolaknya. Hal tersebut karena terdapat proses untuk menyeleksi diri dari individu-individu yang bersangkutan. Namun disisi lain pendidikan sangatlah bermanfaat untuk mengurangi prasangka yang ada pada saat prasangka sendiri tidak terlalu intensif berada dalam masyarakat dan tidak ada individu atau kelompok yang dominan.

Membangun hubungan antar kelompok: Membangun hubungan antar kelompok yang berbeda merupakan jalan yang cukup efektif untuk mengurangi prasangka karena akan membuat individu yang bersangkutan mengenali satu sama lain dan kemudian memahami keberadaan kelompok yang lain. Dalam hal ini mereka akan mencoba untuk memberikan situasi dan kondisi yang kondusif untuk kontak antar kelompok yang berbeda.

Dari pembahasan materi di atas, maka bisa saya simpulkan bahwa prasangka atau stereotipe negatif mrupakan hasil evaluasi seseorang atau keompok terhadap seseorang atau kelompok. Adanya prasangka sosial lebih berdampak kearah negatif seperti tindakan-tindakan diskriminasi yang jelas-jelas merugikan salah satu pihak, Maka dari itu mulai dari sekarang marilah kita senantiasa berfikir positif terhadap apa yang sedang kita alami, boleh saja kita curiga asal ada info atau bukti yang nyata bukan sekedar "katanya". Demikian apa yang bisa saya tulis semoga memang kita dapat memerangi prasangka negatif dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis : Moch Achsanul In'am
Desain Gambar : Buatan Sendiri
Previous
Next Post »

1 komentar:

Click here for komentar
11 Agustus 2015 20.22 ×

nah prasangka buruk memang selalu bikin jengkel..apalagi kita yang diomongin, kan ga enak.

Congrats bro hendri hendriyana you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar
Thanks for your comment